Sejarah Desa Panyingkiran Bermula dari Pencarian Permaisuri untuk Raja, Sampai jadi Tempat Pelarian

                         majalengkaheubeul.com

infomjlk.id -- Berdasarkan penuturan dari sesepuh Desa Panyingkiran, dahulu ketika di daerah Cirebon dan daerah lainnya di Jawa Barat sudah tersebar ajaran agama Islam. Kira-kira pada pertengahan abad 17, seorang utusan dari Kerajaan Mataram bernama Embah Gambir (Embah Pondok) yang diutus langsung oleh Ratu Anom (seorang raja) pergi melanglang buana mencari calon permaisuri yang cantik untuk raja. 

Selama perjalanannya Embah Gambir didampingi oleh beberapa menteri dan para pengawal kerajaan. Mereka berjalan selama berhari-hari bahkan berbulan-bulan menyusuri arah barat dan sedikit ke selatan, namun tak kunjung juga menemukan calon permaisuri yang cocok untuk raja. Sedangkan Ratu Anom memerintahkan mereka hanya satu minggu untuk bisa menemukan calon permaisuri yang cocok dengannya. 

Sembari putus asa pada akhirnya mereka menyerah, dan berhenti di sebuah tempat yang pada saat itu masih berupa hutan belantara. Berhubung semua perbekalan mereka sudah habis, dan mustahil untuk melanjutkan perjalanan kembali. Akhirnya menetaplah mereka di sana sembari sesekali melanjutkan pencarian permaisuri untuk raja di daerah-daerah sekitar tempat itu. 

Untuk makan, minum, mandi dan sebagainya digalilah sebuah sumur yang atasnya ditutup menggunakan belahan kayu (padung). Oleh karena itu, daerah sumur tersebut diberi nama Cipadung dan sampai saat ini sumur itu masih ada. 

Di bagian selatan daerah tersebut dibuatlah sebuah tempat untuk melihat, memantau, atau meninjau (tenjo) sekeliling. Hingga akhirnya tempat tersebut diberi nama Panenjoan. Lalu, jika sore menjelang mereka akan berpindah tempat ke tempat yang lebih tinggi untuk melihat lembayung (layung). Hingga sekarang, daerah tersebut dinamakan Panglayungan. 

Akhirnya daerah tersebut dijadikanlah tempat menetap untuk mereka selamanya. Untuk menghindar (nyingkir) dari Ratu Anom dan Kerajaan Mataram. Hal ini dilakukan Embah Gambir dan pasukannya agar terhindar dari hukuman raja karena telah gagal mencari permaisuri yang cocok untuknya. 

Seiring berjalannya waktu, daerah tersebut akhirnya dijadikanlah sebuah desa bernama 'Panyingkiran', yang berasal dari kata (nyingkir) atau menghindar.

Post a Comment

0 Comments