Mengapa Sepak Bola Begitu Identik dengan Kekerasan?

 





Infomjlk.id -- Jika baraya sekalian ditanya "Olahraga apa yang paling identik dengan kekerasan?" Saya kira sebagian besar dari kita akan sepakat dan satu pemikiran, bahwa sepak bola adalah olahraga yang begitu identik dengan kekerasan. Siapa yang bisa membantah pernyataan itu? Hampir di setiap negara, selalu ada kekerasan yang mengatasnamakan sepak bola. 

Faktanya, bahkan di negara yang memiliki tingkat kriminalitas terendah Swiss, juga terjadi kekerasan dengan latar belakang sepakbola. Lihatlah laga antara FC Basel vs FC Zurich yang selalu berujung dengan kekerasan, atau baca artikel terkait insiden Basel Hooligan tahun 2006. 

Ibaratnya, sepak bola dan kekerasan sudah menjadi satu kesatuan yang sulit dipisahkan. Tak heran jika Margaret Thatcher sempat mengeluarkan larangan bermain sepakbola di Inggris usai tragedi Heysel tahun 1985. 

Dikutip dari kompasiana.com, politikus berjuluk Wanita Tangan Besi itu (Margaret Thatcher) sudah tidak bisa lagi mentolerir kekerasan demi kekerasan yang dilakukan para hooligan Inggris. 

"Kami pastikan permainan sepakbola dihentikan terlebih dahulu sebelum hooliganisme dibersihkan. Setelah itu, mungkin baru sepakbola kita bisa bermain di luar negeri lagi," kata Margaret via thesun.co.uk 

Hooligan sendiri merupakan istilah yang kerap dikaitkan dengan penggemar sepak bola, terutama bagi mereka yang berasal dari Inggris. Hanya saja, untuk sebagian besar masyarakat istilah tersebut masih asing dan kerap menimbulkan tanda tanya besar. Tapi tentu saja tidak untuk generasi muda yang gemar akan sepak bola, dan aktif dalam dunia per-suporteran sepak bola. Karena kultur hooligan sendiri saat ini merupakan salah satu kiblat bagi beberarapa suporter di Indonesia. 

Dari noice.id, kata hooligan pertama kali mencuat di sebuah tren media sosial dalam kalimat _“Hooligans No Face, No Name”._ Kalimat ini mulanya digunakan seseorang sebagai caption ketika ia tak dapat mengunggah foto bersama keluarganya ke media sosial. 

Dari sanalah, istilah hooligan menjadi viral dan mulai marak digunakan. Meski demikian, ternyata masih banyak yang belum mengetahui atau bahkan masih salah kaprah dengan istilah tersebut. 

Menurut Cambridge Dictionary, hooligan adalah sebutan bagi orang yang berkelahi atau melakukan kekerasan hingga menyebabkan kerusakan di tempat umum.  

Sementara itu, menurut Merriam-Webster, kata hooligan berarti seorang pria yang biasanya berusia muda dan terlibat dalam perilaku kekerasan, seperti menjadi bagian dari geng. 

Jika dilihat dari Oxford Dictionary, istilah hooligan memiliki arti sekumpulan anak muda yang memiliki sikap kasar dan sering berbuat onar. Biasanya mereka juga bergabung dengan kelompok tertentu seperti gangster. 

Banyak pertanyaan terkait yang menghubungkan antara sepak bola dengan kekerasaan. Seperti, apa penyebabnya? Seperti apa faktor-faktor pendorong kekerasan dalam sepak bola? Lalu, solusi apa yang bisa ditawarkan untuk menghentikan budaya kekerasan dalam sepak bola? dan pertanyaan serupa lainnya. 

Jika dilihat berdasarkan sudut pandang fanatisme, kita akan melihat bahwa suporter sepak bola bisa melakukan tindak kekerasan karena didorong oleh faktor sosial dan budaya. 

Para suporter melihat bahwa sepakbola ialah olahraga keras, olahraga lelaki kaum pekerja, olahraga bagi komunitasnya dan klub sepakbola yang mereka dukung sebagai bagian hidup dan citra diri. Saat klub yang mereka cintai diusik, solusinya hanyalah lewat cara kekerasan. 

Faktor budaya dan sejarah politik masa lalu juga menjadi pendorong aksi kekerasan di lapangan hijau. Faktor ini banyak kita temui di sejumlah kekerasan yang terjadi di negara-negara Eropa. 

Dikutip dari klikdinamika.com, sepak bola sendiri memiliki sejarah panjang dan rumit. Sepak bola modern mulai muncul ketika industrialisasi sedang mencapai puncaknya pada paruh abad ke-19 di Inggris. Kemudian dengan cepat tersebar seantero belahan dunia, lalu mengakar dan membentuk budaya dimana sepak bola tumbuh dengan subur. 

Sejarah sepak bola tidak terlepas dari revolusi industri, kelas pekerja dan kekerasan. Jika ditinjau dari rumah sepak bola modern berasal, pada paruh abad 19 bisa dipastikan setiap kota industri maka disitu ada klub sepak bola. Ketika Liga Sepak Bola Inggris dimulai, setengah dari peserta liga berasal dari wilayah industri, mulai industri gelanggang kapal, perkeretaapian dan lain sebagainya. Tersebar di wilayah seperti Greater Manchester, Greater Merseyside dan Lancashire County. Hal tersebut juga dialami oleh kota industri Eropa lainnya seperti Milan, Turin, dan Catalonia. Kota tersebut memiliki karakter yang sama seperti kota Manchester karena dukungan dari para pekerja pendatang. 

Sepak bola mulai mendapatkan popularitas di Inggris pada abad ke-13. Pada waktu itu pertandingan sepak bola menampilkan pertandingan antar desa pada hari libur keagamaan. Dalam pertandingan tersebut bola yang digunakan berupa kandung kemih babi serta permainan yang kasar. Jauh sebelum sepak bola setenar sekarang,  Raja Inggris-Edward II sempat khawatir dengan permainan tersebut, karena dapat mengganggu ketenangan umum. Pada tahun 1314 Raja Edward II melarang masyrakatnya bermain sepak bola. 

Kekhawatiran Raja Edward II terbukti ketika sepak bola Inggris terjadi aksi hooliganisme lebih dari lima abad kemudian. Sepak bola pada mulanya hanya sebuah hiburan murah bagi para pekerja lalu mulai menjelma menjadi fanatisme bahkan sampai ekstremisme dalam memberikan dukungan bagi klub sepak bola tertentu. Mereka lalu mengorganisir dan memiliki ikatan setiap anggotanya baik itu latar belakang ekonomi, budaya, agama, maupun ideologi. Sebut saja Hooligan di Inggris, Ultras di Italia, Barabravas di Argentina, Mania di Indonesia dan lain sebagainnya, menjadi hal yang tak terlepaskan dari budaya kekerasan di sepak bola.

Post a Comment

0 Comments