Teruntuk Majalengka, Semoga Tahun Ini Bisa Lebaran Bersamamu

Sumber foto: pexels.com

infomjlk.id - Hei Majalengka, Lebaran ini aku pasti pulang padamu.


Walau entah pulang untuk pergi lagi atau buat menetap di sana bersamamu. Lebih berat ke yang pertama, deh, sepertinya. Maaf, bukan berarti tak cinta, tak peduli dan sejenisnya. Hanya putar roda perjalanan sedang membawaku berjarak dengan pangkuanmu.


Memang belum sesukses Toto - bocah penggandrung film asal Sisilia yang menyeberang ke Roma karena patah hati - di akhir “Cinema Paradiso”. Atau sekompleks takdir karakter yang diperankan Iko Uwais dalam “Merantau”, di mana mimpinya atas kehidupan lebih baik musti terseret pusaran hitam perdagangan manusia.


Peran yang kumainkan untuk saat ini adalah perannya para pegawai kontrak yang menepuk dada di awal proyek sebelum mengkeret di ujungnya, sembari selipkan harap bahwa performanya cukup baik untuk dipertimbangkan kembali di proyek-proyek berikutnya. Bisakah kau bayangkan?


Telah kurasai perbedaan gerak dansa dengan yang lain, selain denganmu. Jalanan hingar, sesak kendaraan, dengus tergesa, fly-over dan lalu lintas searah hadir memaksa atas dasar ketertiban. Tabir asap di siang nyalang, yang sudah pasti bukan kabut. Tamannya terang bercahya namun asing. Tempo kerja yang deras, taktis, hampir tak mengenal waktu atau belel-nya mata. Perkampungan dengan parkir motor darurat di sekitar bahu jalan terdekat jika hujan sedang rajin-rajinnya.


Mereka, pemilik wajah manis dan bermulut pedas. Orang tua sekeras granit, yang mampu gebrak meja rapat dan buat yang lain diam menunduk, seolah tindakan itu bisa hilangkan hawa keberadaan mereka di ruangan itu. Harum aneka parfum yang samarkan bau manusia. Duda beranak dengan gairah mahasiswa tingkat dua. Seperti lirik Lagu Hujan-nya Koil “…kan kutemui wajah-wajah asing tanah ini”.


Ini semua masalah mindset, tutur motivator tanpa nama di kepalaku. Tapi agaknya mindset butuh jiwa-raga sehat dan pembiasaan berulang sebelum benar-benar tersetel optimal. Tentu campur tangan Si Bos Besar pun tidak bisa dielakkan dalam langkah-langkah kita, manusia yang terkadang lupa batasan. Lantas baiknya bagaimana?


Tenang, tenang. Gambaran utuhnya tidak segenting separuh jalan tulisan ini kok.


Ada juga orang-orang menyenangkan yang kutemui, secara sosial maupun profesional. Situasi konyol, pengocok perut. Kudapan lezat. Momen di mana udara sekeliling terasa menginspirasi, penuhi dadamu hingga rasanya ingin meledak. Grafik pertumbuhan masa depan seolah menoreh pasti.


Masih ada kawan sebaya yang menjawab “ingin sehat aja,” ketika kulontarkan “lagi pengen apa nih?”. Tak lupa ia ingatkan aku perkara kesederhanaan dan merasa cukup.


Hei Majalengka hei. Lebaran ini aku pasti pulang padamu.


Menghirup udaramu yang segar, orang-orangmu yang seperti setengah ngantuk, suasana tenang menghanyutkan, jam malam sunyi di luar akhir pekan.


Untuk saat ini kutitipkan orang-orang yang kusayangi di pelukmu.


Kiss bye dulu dari jauh.


Raka

Post a Comment

0 Comments