Puasa yang Membentuk Sikap Takwa

 


infomjlk.id - Sudah berapa hari baraya InfoMJLK godin puasa nih? Sayang banget kalo sampai puasa kita godin di tengah jalan. Padahal bulan ramadan adalah bulan madrasah yang dinanti untuk setiap jiwa yang gersang, kering, dan tandus dalam menapaki hari-hari. Seperti halnya musafir yang mencari air di tengah padang pasir, ramadan adalah pengelana yang singgah sementara untuk memberikan kesejukannya pada semesta.


Secara terminologi, ramadan sebagai madrasah dimaknai sebagai proses dalam menjalani serangkaian riyadhoh/ latihan penyempurnaan diri –ibadah individual, sosial, ritual, formal– secara simultan untuk senantiasa berlaku sesuai dengan nilai presisi derajat takwa. Ramadan pula dijadikan Tuhan sebagai bulan paling agung, mulia, dan penuh karunia. Sebab di dalamnya terdapat sejumlah peristiwa, jejak indah, dan sejarah penting yang turut serta mewarnai horison peradaban umat manusia. Satu di antaranya adalah perintah berpuasa.


Puasa sejatinya adalah menahan segala bentuk kuasa nafsu yang mendominasi dalam diri –dorongan nurani, naluri, niat hati– baik sebagai hal yang nampak maupun yang mengejawantah dalam perilaku. Dalam pengertian pemahaman kontekstual, puasa dapat dipahami dalam dua bentuk, yaitu: puasa formalis dan puasa substantif.


Puasa formalis dapat dipahami sebagai lelaku puasa yang dijalankan berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan, sebagai bentuk puasa seorang hamba yang mempunyai kesadaran penuh terhadap kewajiban dan hal-hal yang mampu membatalkan. Seseorang yang melakukan puasa secara formalis, cukup hanya sebatas bentuk formalnya berpuasa. Misalnya, mampu menahan dari makan, minum, dan seks dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Ia tidak berupaya lebih jauh memahami dan memaknai puasa secara lebih dinamis-kontekstual. Bahkan yang lebih paradoks dari puasa formalis adalah, ia melaksanakan puasa sebagai alibi untuk tidak produktif, berperilaku gegabah, dan konsumtif.


Puasa substantif adalah lelaku puasa yang dilakukan manusia secara sadar, terjaga, dan iman atas segala kehendak inti. Manusia berpuasa secara substantif, mampu menjaga segala dorongan dan kecenderungan untuk tidak melakukan hal yang di luar dirinya. Seperti, mampu menahan untuk tidak berbuat kefasikan di muka bumi. Fasik dalam hal ini, adalah tidak peduli terhadap perintah Tuhan dengan segala konsekuensi yang mengikat dirinya. Sebagai contoh: berbuat kerusakan, mengubah tatanan kehidupan yang ajeg/ fundamental, berperilaku ekstrem berbasis kekerasan, dan menimbulkan kegaduhan publik.


Puncak, tujuan, orientasi dan inti dari puasa adalah takwa. Takwa dimaknai dan dipahami dalam pengertian yang substantif bukan dalam pengertian takwa yang simbolik. Takwa yang dinamis bukan formalistik-statis. Takwa unversal bukan takwa yang parsial.


Dalam pengertian, pemaknaan dan pemahaman hari ini, takwa memiliki dua dimensi. Pertama, dimensi dasar atau pesan dasar. Dan kedua, dimensi universal/ pesan universal. Pesan dasar dari takwa menjadi pondasi berpijak dalam beraktivitas, gerak, dan perilaku keberagamaan kita. Ada kesadaran keTuhanan, dalam hal ini mampu mengendalikan, mengontrol, mengawasi diri kita untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat sesuai dengan yang Allah perintahkan.


Adapun pesan universal dari takwa yaitu  takwa tidak diukur berdasarkan kesadaran konvensional kita hari ini tentang takwa yang dimaknai sebagai ritualitas semata-mata. Ada kesadaran sosial, kepekaan, dan solidaritas filantropis. Ketakwaan dan kebaikan adalah komitmen atas janji dan tanggung jawab kita seorang hamba. Kebaikan ketakwaan adalah sikap tangguh menghadapi ujian, cobaan, dan wabah. Ketakwaan universal memesankan tentang bentuk dan kesadaran keberagamaan yang tidak hanya berdasar pada dimensi ritual, lebih jauh dari itu terdapat kemanusiaan universal.


Takwa menjadi indikator kemuliaan kualitas seseorang. Ukuran kualitas pribadi, individu bahkan bangsa bukan pada kesombongan atas ras, capaian dan kekayaan. akan tetapi, terletak pada ketakwaan setiap hamba, masyarakat individual dan komunal.


Memaknai ramadan hari ini, kita jadikan ramadan yang membentuk sikap takwa dari mulai takwa pengendalian diri yang mampu melahirkan kesadaran diri, kesadaran komitmen sosial, komitmen psikologis untuk peduli pada sesama untuk meraih ketakwaan yang sesungguhnya.


Arief Nur Rohman

Post a Comment

0 Comments