2 Fakta tentang Obrog-Obrog yang Mesti Kita Sadari

 


infomjlk,id – Baraya InfoMJLK, kurang dari sepuluh hari lagi kita semua akan meninggalkan ramadan. Diganti dengan sukacita Idul fitri. Dan kurang dari sepuluh hari itu pulalah, obrog-obrog “mementaskan” dirinya di tengah-tengah rumah kita. Artinya, tak ada lagi obrog-obrog di bulan-bulan pasca ramadan. Saya ingin tanya nih, sudah berapa hal yang baraya sadari dari keberadaan obrog-obrog? Mungkin dua fakta inilah yang akan membantu kita lebih “sadar” tentang obrog-obrog.


1. Fakta dari setiap lagu yang dibawakan


Obrog-obrog selalu membawa realitas sosial dari setiap lagu yang dibawakannya. Setiap lagu yang didendangkan mampu mewakili emosi setiap personil obrog-obrog. Boleh jadi termasuk kita yang turut mendengarkan dan menikmati. Beberapa lagu yang sering dinyanyikan obrog-obrog ini mungkin salah satunya mewakili perasaan dan kondisi hidup yang kita alami; Kosipa-Yayan Jatnika, Secangkir Kopi-Jhonny Iskandar, hingga Pria Idaman-Rita Sugiarto. Di antara lagu ini menjadi song list bahkan top hits sepanjang tahun. Mengapa? Karena lagu-lagu inilah yang lekat sekali dengan kondisi dan realitas masyarakat kita hari ini. Obrog-obrog menjadi wadah kreasi dan ekspresi sukacita hingga dukacita kita.


2. Fakta Solidaritas Filantropis


Tradisi obrog-obrog tidak hanya menjadi satu tradisi baku yang bertujuan untuk membangunkan sahur masyarakat melalui kreasi musik, tetabuhan, nyanyian, dan tarian. Akan tetapi sebagai olah karya kreatif masyarakat sejak dulu untuk bersama-sama membangun solidaritas filantropis. Solidaritas filantropis ini mewujud dalam perilaku kedermawanan, membangun relasi sosial yang utuh dan solid – antara sesama penabuh, pengiring, pelaku seni, dan masyarakat – hal ini terbukti di tiga hari terakhir menuju lebaran. Obrog-obrog akan berkeliling tidak hanya pada malam harinya untuk membangunkan sahur, tetapi juga pada siang harinya untuk menarik swadaya masyarakat. Tanpa disadari pula hal inilah yang mampu mendidik masyarakat untuk terbiasa berperilaku derma, menolong sesama, serta berbagi kepada mereka yang membutuhkan.


Dua fakta inilah yang mesti kita sadari, sekaligus hayati dari obrog-obrog, Baraya. Sebab, obrog-obrog mampu membawa sukacita sekaligus mewakili dukacita kita. Terima kasih obrog-obrog.


Arief Nur Rohman

Post a Comment

0 Comments