Tradisi Obrog dan Dimensi Ibadah Sosial




infomjlk.id - Kebudayaan kita memiliki banyak ragam dan bentuk di dalamnya. Berbagai ragam dan bentuk ini diterjemahkan ke dalam lelaku dan sikap hidup masyarakatnya. Seperti halnya tradisi yang dibangun dan dibentuk oleh masyarakat ini menjadikannya sebagai satu indigenous culture/ lokalitas tradisi setempat asli. Ciri dari indigenous culture adalah memiliki kekuatan lokalitas dan identitas yang mencuat pada diri tradisi tersebut. Obrog-obrog salah satunya.


Obrog-obrog secara demografis, hanya dapat ditemui di wilayah tiga di Jawa Barat; Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan. Tradisi ini tidak terdapat di wilayah lain, inilah yang menjadikannya kuat sebagai satu indikator indigenous cultures tersebut.


Secara definisi, Obrog diambil berdasarkan pada suara, irama tabuhan yang dihasilkan dari perpaduan media pukul yang dijadikan sebagai alat untuk membangunkan masyarakat melaksanakan sahur. Suara inilah yang diserap dan digunakan sebagai istilah awal mulanya tradisi tersebut. Oleh karena itulah, dapat kita rumuskan bahwa obrog adalah kesenian tabuhan yang biasa dimainkan pada bulan suci ramadan yang bertujuan untuk membangunkan masyarakat agar tidak kesiangan dalam melaksanakan sahur.


Tradisi obrog-obrog pada mulanya, dibangun dan dibentuk sebagai satu upaya untuk membangunkan sahur masyarakat sekitar dengan memukul media yang tersedia. Seperti alat dapur yang dijadikan sebagai instrumen untuk menghasilkan suara. Lambat laun, tradisi obrog ini mengalami satu perkembangan dalam bentuk instrumen dan medianya. Hari ini tradisi obrog menggunakan kendang, gong, dan buyung (tembikar yang lubangnya ditutup dengan karet ban) yang berfungsi sebagai bass. Boleh jadi setiap wilayah mempunyai ke-khas-an tersendiri dalam pemilihan alat, media, dan instrumen yang digunakan. Wilayah Majalengka sendiri misalnya, alat yang digunakan  berupa kendang, kemung (sejenis gong kecil), gong, gitar elektrik, dan perangkat sound system yang dibawa di atas sepeda atau becak.


Selama bulan Ramadan, para pemain obrog berkeliling dari kampung ke kampung. Mereka menyusuri wilayah di kampung/ desa tersebut sambil memainkan musik dan membawakan beberapa lagu-lagu tradisional dan dangdut modern. Obrog-obrog ini mulai berkeliling dari pukul satu sampai menjelang imsak. Tradisi obrog biasa dimainkan oleh orang dewasa, akan tetapi tidak menutup kemungkinan di beberapa wilayah, ngobrog (kegiatan obrog berkeliling kampung) dimainkan juga oleh anak-anak remaja.


Pada tujuh hari terakhir di bulan ramadan, kegiatan ngobrog ini dilakukan pada malam dan siang hari, kegiatan ngobrog siang hari dilakukan sebagai sarana hiburan bagi anak-anak yang telah melaksanakan ibadah puasa sampai menjelang akhir bulan ramadan. Selain itu, kegiatan ngobrog siang hari dilakukan guna menarik swadaya masyarakat sebagai bentuk terima kasih kepada tim obrog-obrog yang telah membangunkan sahur. Biasanya masyarakat sekitar memberikan beras, uang, atau makanan lainnya untuk bekal berbuka puasa nanti. Hal inilah yang mendasari satu dimensi ibadah sosial masyarakat selama bulan ramadan melalui tradisi obrog.


Tradisi obrog ini terus mengalami perkembangan dan penyesuaian bentuk dari masa ke masa. Wajar saja hal ini terjadi, sebab tradisi obrog inilah bukan bentuk dan produk kesenian yang sakral. Ia dapat berubah dengan keadaan dan tuntutan zaman. Setiap kesenian memiiki sebuah fungsi, Edi Sedyawati (2006: 366) menyebutkan fungsi seni yaitu: sebagai penyalur adi-kodrati; penyalur bakti keada Tuhan (religius); melestarikan warisan nenek moyang; sarana pencaharian hidup; sarana atau komponen pendidikan; hiburan.


Di masa lalu tradisi obrog erat sekali berkaitan dengan fungsi penyalur bakti kepada Tuhan (religius). Secara langsung, orang yang melaksanakan tradisi obrog/ ngobrog ini juga berperan mengajak orang untuk beribadah. Jika kita telusuri bersama, selain sebagai tradisi, obrog-obrog terdapat satu dimensi ibadah sosial masyarakat yang perlu kita sadari keberadaannya di bulan ramadan. Misalnya: membangunkan sahur, mengingatkan waktu makan sahur, semangat gotong royong, mempererat silaturahmi dan persaudaraan, sikap bakti filantropis, serta perilaku sosial keagamaan kolektif lainnya.

Dimensi ibadah dan pengabdian dalam tradisi obrog, tidak hanya mengejawantah dalam lelaku ibadah individual-formal, tetapi juga ibadah sosial-kolektif. Kesadaran inilah yang perlu dibangun untuk generasi mendatang, jangan sampai fungsi utama dalam tradisi obrog ini luntur dan hilang begitu saja, tergantikan dengan pemaknaan yang bersifat materil dan nominal semata.


Arief Nur Rohman

Post a Comment

0 Comments