Begini Cerita Tentang Kami yang Nekad Menginap di Desa Nanggerang Leuwimunding


infomjlk.id - Ngeri, soalnya ini kali pertama buat kami menginjakan kaki di Desa Nanggerang. tetapi kengerian itu, bersatu-padu dengan rasa penasaran mengenai ada apa saja di desa yang terletak di Kecamatan Leuwimunding ini. Simak apa yang kami temukan berikut ini.

Baraya Majalengka, sebetulnya Nanggerang nggak ngeri-ngeri amat kok, sebab sebenarnya, desa ini nggak terlalu jauh kok dari hiruk-pikuk alun-alun Leuwimunding, atau sibuknya terminal dan pasar Rajagaluh.

Nanggerang juga bukan tempat antah berantah yang nggak ada peradaban di dalamnya, pada tahun 2018 lalu mereka berhasil mengaktivasi sebuah taman desa yang sempat viral di jagad maya, lewat Taman Yudha Laksana. Yap, desa kecil ini pernah menjadi destinasi di daerah Majalengka bagian timur karena berhasil membangun taman yang lumayan menyenangkan, sebelum akhirnya terlantar lantaran COVID. Pun beberapa bulan lalu, desa ini mendapat bantuan untuk membangun rumah produksi sekaligus galeri anyaman bambu dari program KoTaKu (Kota Tanpa Kumuh), bahkan juga terpilih menjadi 1 dari 12 Desa Tematik Kreatif Majalengka. Berangkat keingintahuan apa rahasia yang tersimpan di Nanggerang, tentang pemanfaatan ruang atau ekosistem ekonomi kreatif, kami datang. Ya meskipun, tidurnya di mana? apakah bakal aman dan nyaman? ada sinyal enggak ya? pertanyaan-pertanyaan ini yang bikin acara menginap satu hari ini tetap ngeri.

Jika hidup dan segala yang bergerak di dalamnya serupa perjalanan, maka pertemuan demi pertemuan adalah pemberhentiannya, di mana kita bisa melihat ke dalam diri dan menyiapkan bekal selanjutnya.

Siang ini, berbekal google maps, saya dan Affandi sampai di Kantor Kepala Desa Nanggerang, untuk pertemuan dengan seorang kawan lama; Riki Subagja yang kebetulan menjadi aparat desa. Riki-lah yang akan menjadi tour guide infomjlk selama 24 jam ke depan. Kemudian deras hujan turun, di ruangan tamu kantor Kepala Desa Nanggerang kami berteduh. Di situ juga ada Pak Kadus. Berempat kami menunggu hujan reda seraya mengobrol ngalor-ngidul apa pun tentang Nanggerang, pengaturan jadwal, dan lain sebagainya.

Hidup dan segala yang bertautan di dalamnya sungguh dipenuhi rahasia, pertemuan untuk pemberhentian, pemberhentian untuk pertemuan, melengkapi sisa-sisa perjalanan.

Laksana hujan di sore ini yang belum mau berhenti, padahal hari sudah petang. “A, ikutin kami,” tanpa sedikit pun menaruh curiga; kami beranjak, mengikuti punggung Riki dan Pak Kadus yang keluar dari Kantor Kepala Desa berlari-larian menerobos hujan, membunyikan suara khas sepatu pentopel, dan cipratan dari air yang menggenang. Sekitar satu menit berlari, kami sudah sampai di depan rumah warga. Sudah memastikan kami mengetahui tempat di mana kami akan menginap, Riki dan Pak Kadus kemudian pamit untuk mandi, segera setelah itu awal kengerian ini terjadi.

Nggak ada yang istimewa dari rumah ini, hanyalah rumah model tua yang tampak terawat. “Bu hajina nuju shalat heula sakedap, kalebet wae heula. (bu Hajinya lagi shalat dulu sebentar, masuk aja dulu)” seseorang wanita muda setelah membuka pintu. Duduk beberapa lama, keluarlah nenek paruh baya berusia sekitar 80-an, “Puntennya tadi nuju shalat, mangga, mangga, (maaf tadi lagi sholat, silakan silakan).” sapa Bu Haji yang masih memakai mukena seraya tersenyum, setelahnya kami dipersilahkan duduk dan menyimpan barang-barang.

Hari sebenarnya masih sore, namun langit Nanggerang diselimuti gelap, satu-satunya pilihan sesuatu yang dapat kami lakukan adalah mengobrol dengan Bu Haji Enas, sang pemilik rumah. Lagipula, kami butuh mengetahui apa yang terjadi di Nanggerang dua-tiga puluh tahun lalu, dan saat ini kami berhadapan dengan orang yang tepat. Kami menghujani ibu yang bernama asli Bu Haji Naswati ini dengan banyak pertanyaan, tentang sejarah, tentang anak muda, tentang apa pun yang terjadi di desa kecil ini pada masa silam. Bu Haji menjelaskan, “Nyaris tidak ada perubahan hari ini dan 20 tahun lalu, hanya ada perubahan-perubahan kecil.”


Hujan di luar masih besar, namun entah bagaimana, rasa dingin ini berubah menjadi kehangatan, kami dan Bu Enas tiba-tiba menjadi akrab, seolah kami sudah kenal sejak lama, dia menjawab satu-persatu pertanyaan kami dengan detail, jelas, juga antusias. “Anak-anak yang KKN juga biasanya menginap di sini,” aku Bu Haji, oh pantas saja, kata saya dalam hati. Beliau bahkan menceritakan tentang anak dan cucu-cucunya, dan memperlihatkan beberapa gambar Nanggerang. Waktu berputar cepat, hingga nggak terasa adzan magrib telah berkumandang.

Hujan belum berhenti, selepas magrib kami menerobos hujan untuk memenuhi undangan Pak Kades yang ngajak ngopi di kediamannya. Sesampainya di sana, ternyata Pak Kades membuatkan party kecil untuk penyambutan tamu, dengan hidangan pecel lele yang dibeli di jalan depan gang “Selamat datang A Tomi dan kawan, di Desa Nanggerang, kalau butuh apa-apa bilang saja,” setelah sedikit sambutan dari beliau, saya, Riki, dan perangkat desa yang turut hadir melanjutkan dengan sedikit diskusi hingga acara selesai. “Kami percaya kami telah memiliki pra-syarat dan potensi untuk menjadi desa yang mampu menjadi desa yang maju, untuk itu kami ingin membuka diri kepada akedimisi, atau orang-orang yang ingin membantu kami,” tutup Pak Kuwu yang bernama asli Udi Wahyudi ini. 


Saat pulang, saya terkejut bahwa Bu Enas masih bangun, seolah dia menunggu kepulangan kami. Di meja bahkan terdapat roti dan beberapa cemilan, tapi karena terlalu lelah dan takut mengganggu jadwal tidur Bu Haji, saya memilih segera berisitirahat.

Lantaran harus bersihkan diri terlebih dahulu sebelum tidur, akhirnya punya waktu untuk melihat-lihat, merasakan, ruangan tempat tidur kami. Kamar mandi di dalam, terdapat dekorasi sederhana yang memiliki aksen rumah jadul. Tersedia sarung, sejadah, dan handuk. Kasurnya nggak empuk, tapi seprei dan sarung bantalnya baru dicuci nan wangi. “Kita seakan lagi menginap di hotel, nyaman banget,” ujar Affandi seraya berlalu ke kamar mandi.

Pertemuan adalah pembelajaran, dan ini adalah pelajaran yang kami temukan, tentang penerimaan yang selalu kita kejar-kejar telah diberikan oleh Desa Nanggerang melalui Riki dan Bu Haji Naswati.

Keesokan harinya saya menulis ini dengan seraya memandangi rumah Bu Enas yang masih ada di masjid, setelah sebelumnya kami berjalan beriringan dengan beliau untuk melaksanakan shalat subuh berjamaah di masjid dekat Kantor Kepala Desa. Saya berpikir, mengapa Pak Kuwu dan Riki memilih menempatkan kami menginap di rumah Bu Enas? saya merasa dijebak, sebab melalui pertemuan ini, akhirnya membuat berpikir bahwa kami harus kembali mengunjungi desa kecil ini suatu saat nanti.

Kami percaya, bahwa Nanggerang tidak harus menghidupkan kembali taman Yudha Laksana yang telah lama mati, atau tidak perlu membuat taman Yudha Laksana yang baru, tetapi perbanyaklah Riki dan Bu Haji Enas, niscaya kami selalu memiliki alasan untuk mampir ke Desa Nanggerang. Pun dengan Majalengka, kami percaya bahwa kita harus segera belajar untuk menjadi tuan rumah yang baik.

Tulisan harus diakhiri sebab Riki sudah sampai, dia akan mengajak kami nyunrise dan keliling Desa Nanggerang. Simak petualangan infomjlk di Desa Nanggerang, di konten selanjutnya.

tommi pringadi


Post a Comment

0 Comments