Anyaman Balagedog di Mata Pak Sadim


Infomjlk.id - Sore semakin larut ketika saya menyambangi Pak Sadim. Barangkali takmir-takmir surau di Balagedog sedang menyapu teras masjid, menyambut maghrib, dan dengan tidak tahu waktu yang tepat untuk bertamu, saya menginterupsi selonjorannya di atas teras berwarna hijau lumut. Menunjukkan pengalaman menghadapi gangguan lebih dahsyat, ia mampu kendalikan diri dan persilahkan tamunya masuk.


Sadim, menembak tahun 1965 sebagai tahun kelahirannya, adalah warga desa Balagedog. Ia mengisi hari-hari dengan menjual mie ayam sekaligus agen jamu herbal. Tak berhenti di situ, beliau juga nyambi sebisa mungkin dengan menganyam rotan di sela tunggu konsumen. Ya, kawan-kawan, Pak Sadim ini salah satu dari sekian banyak penganyam di Balagedog.


Sepanjang beliau bisa mengingat, desa yang bersebelahan dengan Leuwilaja itu sejak dulu sudah dicokoli para penganyam. Tak tanggung-tanggung, dari uyut, kakek hingga bapaknya merasakan bagaimana menyambung hidup lewat kerajinan tersebut. Pilihan profesi yang tidak banyak saat itu membuatnya meneruskan garis para pendahulu sebagai penganyam. Ia mulai menjamah bidang ini pada usia 20, setelah sempat menjajal bekerja sebagai pencari kayu bakar sejak kelas 4 SD. Kebiasaan memperhatikan orang menganyam membuat ia tidak terlalu kesulitan untuk menguasai salah satu kegiatan yang sebenarnya cukup menagih ketelitian dan ketelatenan ini. Pak Sadim bilang semua terjadi secara normal saja. Barangkali tepatnya natural.


“Dulu, (orang-orang) nganyam bambu jadi boboko. (Lalu) dibawa ke pasar Rajagaluh.”


Tentu alokasi jarak tempuh Balagedog-Rajagaluh saat itu berbeda dengan saat ini. Menyibak rimbun hutan adalah jalan pintas, ketimbang jalan utama, dan umumnya berjalan kaki.


“Ya, jangankan SUV atau kol gundul, sepeda wae udah hebat.”


Menyoal harga, sebuah boboko kecil, biasa dipakai sebagai tempat nasi, dihargai Rp.150,- dan saat itu beras berkisar Rp.100,- per liter.


“Wah makmur dong, pak?”


“Kalo (150 itu) bersih, iya atuh.” beliau menyeringai.


Dan saya rupanya terlalu lugu. Nyatanya harga bahan dan tali musti ditutupi. Belum biaya konsumsi saat produksi. Biaya transportasi. Biaya rumah tangga lain. Itu tidak termasuk tempo kerja yang kadang tidak melulu patas. Bagi para penganyam, menyisihkan 100 perak demi perut keluarga telah sukses menjadi tantangan tersendiri.


Waktu terus beranjak dan kita yang berada dalam jeratnya juga terus jungkir balik supaya tak terseret. Pa Sadim, yang dulu menganyam bambu, turut bertransformasi menjadi perajut rotan.


“(Tahun) 85an mulai muncul rotan. 5-20 orang ikut pelatihan oleh Pabrik, di Cirebon.”

Bagai penyebaran cacar air, yang sedikit menularkan keterampilan yang mereka peroleh. Meski lebih rapuh, menganyam rotan, menurut Pak Sadim, jauh lebih mudah ketimbang melakukan hal sama pada bambu.


“Seminggu juga bisa rotan mah.


Ia kemudian membuat perbandingan dengan pembuatan soko boboko atau kaki perabot dapur itu, umumnya berbentuk persegi. Ialah bagian yang proses pengerjaannya paling rumit. Proses pengerjaannya menggabungkan kelapangan dan kesabaran jiwa serta kecekatan pun keterampilan jari jemari. Berat, toh?


“Semua jarimu musti maen. Saling bantu, saling tempel. Wah sulit pokoknya. Berani taruhan, 1 bulan (kamu) belum cukup buat mahir.”


Hari ini tersisa sedikit orangtua sebagai penganyam bambu. Lainnya beramai-ramai pindah ke rotan. Peralihan mencapai puncaknya pada kisaran tahun 1995. Ini membuat Pak Sadim yakin jika anak yang terlahir setelah tahun itu tak pernah dilatih menganyam bambu.


Jika menilik lebih dalam ke pola distribusi, rotan memang menjanjikan. Praktis, boboko hanya bisa dialirkan ke Rajagaluh dan Leuwimunding. Termasuk berbagi pasar dengan produk senada dari desa lain misalnya Trajaya. Lebih jauh, produk-produk berbahan dasar plastik membanjiri toko dan menggoda pengunjung dengan daya tawar ringan, anti belah dan murah.


Sementara itu rotan, atas bantuan jaringan pabrik, dapat mencapai keinginan pasar luar negeri. Dengan alur Balagedog-Cirebon-Jakarta sebelum menyebrang wilayah nusantara, para penganyam macam Pak Sadim berperan serta menambah devisa negara. Sebagai contoh konkretnya, 3 tahun terakhir ini beliau mengerjakan orderan keranjang rotan dengan panjang 20 cm dan tinggi 15 cm. Dalam sehari, kira-kira merampungkan 10 keranjang yang masing-masing dihargai Rp.4.000,-. 


Walaupun ada bambu, rotan jadi juga kan di Balagedog? (LBS)

 

Tulisan ini dirangkai pada April 2019.



Post a Comment

0 Comments