SCT: Kepada Aif Saiful Maruf



 

Aif Saiful Maruf

Di Ligung

 

 

Sebuah kisah masa lalu hadir di benakku

Saat kulihat surau itu

Menyibak lembaran masa yang indah

Bersama sahabatku

 

Sepotong Episode

 

Lyra, saya menulis ini sambil mendengarkan lagu Sepotong Episode di atas. Tahukah kamu, setiap melewati Masjid Al Huriyah Jatiwangi, Masjid Al Imam Majalengka Kota, Masjid Maja, atau Masjid Talaga; selalu seketika melahirkan sesak di dada ini. Kadang-kadang, saya berhenti, masuk—menengok pada tiap-tiap sudut Masjid, lalu senyum-senyum sendiri. Saya selalu berhasil melihat diri sendiri—diri yang lain—diri di masa lalu. Bersama Aif, Feizal, Garin, Rivan Trisatrio dan banyak lagi. 

 

Di bawah tiang di dalam masjid itu, saya bersama mereka duduk melingkar, memegang Al-Qur’an, menghafal ayat-ayat suci. Walaupun akhirnya, satu per-satu dari kami tumbang, hanya menyisakan Aif yang istiqamah. Yaaa ayyuhal laziina aamanuuu in tansurul laaha yansurkum wa yusabbit aqdaamakum. Surat Muhammad ayat 7. Barangsiapa yang menolong agama Allah, maka Allah akan meninggikan derajatnya. Barangkali itu dalil yang tepat. Sebab saat ini, Aif adalah orang yang paling “berhasil” diantara kami. 

 

Aif telah membangun Rumah Hafidz Qur’an dengan ribuan peserta didik, bahkan sudah membangun rumah dan meng-umrohkan orang tua. Segala keberhasilan ini, bukan karena dia saleh, tapi karena dia istiqamah.

 

***

 

Sahabat Kecil

 

Lyra, 

 

Tahukah kamu bahwa saya sudah lama kenal dengan Aif Saeful Ma’ruf? Bukan kemarin sore, bukan pula dari SMP. Melainkan dari bayi. Aif lahir beberapa bulan setelah saya, kami tumbuh besar di lingkungan yang sama di desa kecil yang damai, Surawangi. Orang tua kami cukup dekat dan sering saling mengunjungi, di situ lah kami mengenal; di masa balita. Masih jelas di kepala, setelah tahu rumah Aif, saya suka berlari ke rumahnya sendiri. Dia selalu mengeluarkan mainannya yang banyak, makanan, atau apa pun yang ia punya—sehingga bisa dinikmati berdua. Berdua kami menghabiskan hari.

 

Hari-hari itu berlalu begitu cepat, hingga kami harus segera mengenyam bangku taman kanak-kanak. Aif dan Tomi kecil belajar menulis membaca di TK yang sama. Intensitas pertemuan kami tentu semakin sering. Di sana saya ranking 2, Aif tidak masuk—di situ, adalah satu-satunya momen ketika saya dapat mengalahkan Aif. Selebihnya dalam cerita ini saya selalu dikalahkan. Telak.

 

Oleh sebab itu, Lyra, jika kamu atau sesiapa saja kagum pada siapa Aif hari ini, maka seharusnya saya lebih lagi—sebab saya mengenal dia dari nol. Mengerti bagaimana keras ia berjuang.

 

Pengkhianatan Pertama Seorang Teman

 

Setelah 6 tahun bebas tanpa bayang-bayang dan gangguan Aif. Entah ini kutukan, atau justru anegerah Tuhan; kami bertemu lagi di sekolah menengah. SMPN 1 Jatiwangi. Masa-masa sebelum masuk SD terulang kembali di sini, sebab kita berdua sama-sama aktif di banyak organisasi sekolah: Pramuka, OSIS, PKS, DKM dan lainnya.

 

Puncak kedekatan saya dan Aif adalah ketika kami satu kelas. Dulu, ada yang namanya kelas unggulan—murid dengan peringkat 10 terbaik di masing-masing kelas disatukan. Celakanya, murid cowok kelas ini hanya delapan orang. Tapi, Lyra, keuntungannya adalah chemystri kami gampang terbentuk, delapan siswa ini begitu dekat satu dengan yang lainnya.

 

Barangkali kamu berpikir saya paling dekat dengan Yuda, karena kami berada di kelas yang sama sebelumnya. Atau mungkin Feizal, karena kami sama-sama dari Sutawangi. Bukan Yuda, bukan pula Feizal, tapi Aif; karena kami sudah bersama sejak balita.

 

Di SMP saya selalu terbuka untuk apa pun, kecuali urusan hati. Dari dulu, kebanyakan saya memendam, hingga perasaan itu menguap di udara, tanpa diketahui oleh siapa pun. Tapi pada Aif, entah bagaimana, saya dapat melakukan itu. Yang menyebalkan, ketika saya mengaku jatuh cinta pada Raini, misalnya. Aif malah ikut jatuh cinta. Saya suka pada Larasati, dia juga ikut. Ujung-ujungnya, dia yang pedekate dan mendapatkan. Hal tersebut berkali-kali terjadi. Kalau diingat-ingat, ini adalah pengkhianatan pertama dari seorang teman yang saya dapatkan dalam hidup.

 

Alih-alih marah, sakit hati, dendam, atau pun membenci. Saya tetap berada di sisinya, ikut merayakan dan berbahagia bersama, meski sebenarnya itu artinya saya sedang merayakan kekalahan diri sendiri. Parahnya orang ini tidak merasa melakukan sesuatu yang salah, apalagi berpikir mengkhianati temannya.

 

Lyra, saya tiba-tiba ingin membayangkan saya jatuh hati padamu di SMP, lalu bercerita pada Aif, hal selanjutnya yang terjadi bisa ditebak. Dan jika ia bisa mendapatan hatimu—jika itu untuk Aif. (Maaf) saya akan menyerahkanmu sukarela. Barangkali di sini adalah jawaban takdir mengapa kita berada di SMP yang berbeda.

 

***

 

 

Mesin Waktu

 

Lyra,

 

Pada tiap-tiap jokes­ Aif yang garing, pada perilakunya yang kadang-kadang licik dan menyakiti. Hari-hari bersamanya selalu lebih mudah. PKS kita juara satu tingkat Kabupaten, kami menang di semua kategori, mengalahkan SMA.

 

Saya tidak ikut pansos dari kepopuleran Aif, tidak pula dia yang menggantungkan diri pada saya. Waktu itu kami masih berdiri sejajar. Dan bagi saya—bersamanya membuat saya keren.

 

Aktif di semua organisasi membuat kami 12 jam dalam 6 hari, kadang bahkan main konsol bersama pada hari minggu di rumah Yuda—rasanya saya lebih sering berkumpul dengan Aif ketimbang keluarga sendiri. Bersama Feizal, Yuda, dan Aviv, kami membentuk gang kecil-kecilan, TwoAsTwoLangAviv. Berlima kita melalui masa SMP yang penuh warna. Pada petualangan-petualangan—jerit malam, mendaki terjal bukit, melintasi sungai bersama. 

 

Kelas tiga, kami “hijrah” dan bersama-sama mendekatkan diri pada-Nya. Kegiatan ngaji, menghafal hadist dan ayat suci dimulai di sini. Pernah, saya Aif dan Feizal menolak memakai celana pendek, sebab merasa sudah akil baligh. “Kalau mau pakai celana panjang, masuk saja MTS! Kalian ini pengurus OSIS, seharusnya jadi contoh!” kami dicerca dan dihukum memang, tapi dua tahun berikutnya seluruh SMP di Jatiwangi akhirnya memakai celana panjang.

 

Sungguh, jika mesin waktu telah dibuat. Saya akan kembali ke masa SMP.

 

Menjauh

 

Lyra, kamu berada di sekolah yang sama dengan Aif ketika SMA. Coba ceritakanlah bagaimana dia waktu itu pada saya, suatu saat nanti. 

 

Dari kejauhan, saya melihat Aif berlari meninggalkan, mendapat berbagai macam prestasi dan pencapaian. Sebenarnya dia tidak meroket-roket amat kok, tapi waktu saya di SMA seolah membeku, sebab terlalu banyak melakukan hal-hal yang tak perlu. Atau, jangan-jangan, karena Aif sudah tak berdiri di samping saya lagi? Semua gelap, bak ruangan gelap yang kehilangan lilin.

 

Di momen ini, saya merasa ditinggalkan—hanya bisa melihat punggungnya yang perlahan hilang. Hingga putih abu berakhir, dia mendarat di UPI, sementara saya terdampar di Universitas yang tidak jelas. Di kehidupan sebagai mahasiswa, saya yang mengintip kehidupannya di media sosial—merasa semakin tertinggal. Jauh dan jauh. Lagi dan lagi.

 

Pun ketika membuat besoksenin.co, saya mengajak banyak sekali teman SMP gabung; terkecuali Aif, sebab saya merasa tidak cukup keren untuk mengajaknya.

 

Menganggu

 

Ikatan yang terlalu kuat, sepertinya cukup untuk menjaga kami tetap dekat. Hubungan yang berlangsung setelah sekian lama, tak mudah dihapus. Mengendor, memang, namun bukan berarti hilang. Aif selalu datang pada kehidupan saya, pada momen-momen tertentu kami beririsan. 

 

Lyra, rasanya saya telah berlari sangat jauh, tapi ketika kembali bertemu orang ini; selalu saja, saya merasa dikalahkan. Selalu saja, ia menyadarkan pada banyaknya kegagalan yang saya dapatkan dalam hidup jika dibanding dengan hidup miliknya. Saya iri. Saya malu. Terus terang, pada akhirnya saya memilih untuk menjauhinya. Jujur, memang Aif muncul di kepala ketika ada masalah menimpa, namun saya tak mau datang atau berurusan dengannya. Tidak, ketika posisi kami tidak sejajar. Tidak, pada orang yang saya tau seluk-beluknya dahulu. Saya mau tunduk pada hubungan vertical, tapi tak pernah pada mereka yang sebaya.

 

Meskipun dari jauh, saya tetap belajar bagaimana membuat orang-orang yang cenderung meremehkan berhasil dibungkam, atau apa pun tentang kita yang tak punya privilege dari Aif. Sambil berpikir bagaimana caranya untuk mengejar, sehingga kami bisa bertemu lagi dalam posisi yang seimbang, suatu saat kelak.

 

Pada akhirnya, Aif adalah orang yang mengambil peran di hidup saya yang rapuh, bahkan sejak kami kanak-kanak. Entah bagaimana jadinya, jika diri ini tidak pernah bertemu dengannya. Barangkali sudah lama mati di jalan. Dan dalam ketidakberdayaan ini, puja dan puji syukur yang hadiratkan pada-Nya, bahwa ada nama Aif dalam beberapa lembar di buku hidup saya.

 

Pada kenyataannya, selama ini; bukan Aif yang merebut, ini hanya tentang saya yang tidak pernah memperjuangkan keinginan sekeras tenaga, kadang menyerah sebelum mencoba. Ini hanya tentang dia yang istiqamah.

 

 

Sepotong episode masa lalu aku

Episode sejarah yang membuatku kini

Merasakan bahagia dalam diin-Mu

Merubah arahan langkah di hidupku

Setiap sudut surau itu menyimpan kisah

Kadang kurindu cerita yang

Tak pernah hilang kenangan

Bersama mencari cahaya-Mu

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Post a Comment

0 Comments