Majalengka-Cirebon, Riwayatmu Kini

Penulis adalah Karina Nur Shabrina--pemudi asli Cirebon yang mengetahui sebagian besar tentang Majalengka, termasuk masa lalunya-- 

SAYA adalah penduduk asli Cirebon. Lahir, tumbuh, dan besar di sana hingga menjejak bangku SMA. Dekat dengan Cirebon, ada Kabupaten Majalengka. Dan, setiap dia yang hidup di Cirebon dan Majalengka, pasti memiliki riwayat masing-masing soal daerahnya itu.

Bicara Majalengka, saya ingat bahwa dulu, teman satu kelas di bimbingan belajar (bimbel) Nurul Fikri Kota Cirebon yang tinggal di Majalengka pernah bercerita: "Tiap ke sini naik motor 45 menit," katanya.

Yang saya lupa, konteks pembicaraan kami (saya dan kawan laki-laki asal Majalengka itu). Mungkin, tipikal obrolan anak SMA, yang bertanya rumah di mana, berangkat sekolah naik apa, pulang sekolah pakai apa. Dan karena kami mengobrol di bimbel, pastilah pertanyaannya menjadi: berangkat bimbel naik apa dan pulang bimbel pakai apa. Voila! Didapatlah jawaban 45 menit tadi.

Well, saat itu saya hanyalah anak SMA yang mengikuti gosip tentang SHINee, Super Junior, dan SNSD, bukan berita tentang Nazaruddin, Gayus Tambunan, apalagi Inong Malinda. Jadi, ketika kawan Majalengka saya bilang bahwa dia menempuh perjalanan 45 menit memakai motor untuk mengikuti bimbel di Cirebon, saya tidak menghiraukannya. Saya tidak sekritis itu untuk sadar ada orang yang harus menempuh jarak puluhan kilometer demi mencari ilmu tambahan.

Tapi, itulah salah satu fragmen tentang Majalengka yang masih melekat dalam lembar kenangan saya, selain juga tentang berburu durian ke Sinapeul dan makan bersama keluarga di Jatiwangi.

Kini, hampir satu dekade setelah percakapan soal Cirebon-Majalengka itu berselang. Selama itu, saya kuliah di Kota Bandung, dua kali menjadi budak korporat di Jakarta, dan pindah (kembali) untuk bekerja di Kota Bandung. Jadi, tidak ada tambahan kenangan soal Cirebon apalagi Majalengka dalam benak saya.

Perkembangan Kota Cirebon pun hanya sekelebat mata dalam ingatan. Karena setiap pulang, saya layaknya puluhan tahun meninggalkan tanah kelahiran saya itu. Mudah sekali terpukau dengan cafe baru yang belum pernah saya cicipi, jalanan mulus yang dulu harus susah payah ditaklukkan mamang becak langganan saya, atau OYO dan RedDoorz yang kini menyembul di gang-gang.

Perkembangan Kabupaten Majalengka, mungkin kawan bimbel saya bisa lebih detail menceritakannya --jika setelah sekolah, dia terus tinggal di kota kelahirannya.

Satu yang pasti, Cirebon dan Majalengka masih berdiri di tempat yang sama. Dengan setiap sudutnya memiliki segudang cerita bagi masing-masing muda-mudi yang lahir dan besar di sana.

Dan, ada satu hal baru yang tengah berproses menjadi kenangan bagi saya, kawan saya, dan anak-anak muda kiwari tentang Cirebon dan Majalengka. Sudah berkembang pesat? Itu akan menjadi jawaban yang normatif dan hakiki. Menjadi primadona baru kawasan industri di Jawa Barat? Itulah riwayatnya nanti.

Ya, bersama Pelabuhan Patimban di Kabupaten Subang, Cirebon dan Majalengka dengan bandara internasional di Kertajati akan menjadi tiga kawasan segitiga emas Jawa Barat yang disebut Rebana.

Proyek pembangunan ini diumumkan semasa kepemimpinan Kang Emil --sapaan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Menurutnya, kawasan Rebana akan menjadi ekonomi baru di Jawa Barat dengan segala kemudahan investasi, infrastruktur, dan disokong teknologi mutakhir.

“Saya titip comparative studies, bandingkan Rebana dengan lokasi lain. Tidak ada di Indonesia tempat se-istimewa Segitiga Rebana ini, bandara berdekatan dengan pelabuhan, dilintasi kereta api, dilintasi jalan tol, harga tanah masih relatif belum tinggi,” kata Kang Emil pada Maret 2020.

Waktu berjalan, kini realisasi terdekat adalah soft launching Pelabuhan Patimban di akhir 2020. Artinya, detik demi detik yang berlalu semakin membawa kita ke masa di mana kawasan industri baru di Rebana terwujud dan segala yang terjadi saat ini akan menjadi kenangan.

Membayangkan lanskap Kota Udang yang perlahan berubah menjadi kawasan metropolitan sudah cukup mengundang haru bagi saya. Apalagi berandai-andai jika Rebana --sebagai satu dari tiga calon lokasi ibu kota baru Jawa Barat-- terpilih menjadi pusat pemerintahan provinsi dengan populasi terbesar se-Indonesia ini.

Menjadikan itu sebagai kenangan, saya tak sabar, sekaligus sedih untuk mematrinya. Karena bersamaan itu, pasti ada juga kenangan yang mempertanyakan ke mana saja saya selama Kota Cirebon membutuhkan dukungan publisitas dari anak-anak muda yang bangga akan daerahnya? Malah Kang Emil --arsitek dan pemimpin asal Kota Bandung-- yang banyak bercerita soal potensi Cirebon dan Majalengka.

Namun, belum terlambat bagi saya, kawan saya, atau anak-anak kelahiran Cirebon dan Majalengka lainnya, untuk memoles diri dengan berbagai kemampuan mumpuni, untuk menulis sendiri kenangan membanggakan bagi Cirebon atau Majalengka, tanah kelahirannya.

Sehingga dalam kenangan kita nanti, tidak hanya mengingat bagaimana Cirebon dan Majalengka dibangun, tidak hanya meneruskan berita lama, tidak hanya bercerita sebagai orang ketiga, tidak hanya berkisah soal perjalanan Majalengka-Cirebon, tetapi juga salah satunya akan ada yang bercerita bagaimana dia membangun Cirebon-Majalengka, bagaimana dia memimpin Rebana.

Saya adalah penduduk asli Majalengka. Lahir, tumbuh, dan besar di sana. Dekat dengan Majalengka, ada Cirebon. Dulu, Majalengka dan Cirebon.....


Post a Comment

0 Comments