SCT: Kepada Adhi Setya

Adhi Setya

Di Kulur

 

 

 

Lyra,

 

Beberapa waktu lalu polemik terjadi, wartawan konvensional menuduh Adhi Setya, “Sekarang dana publikasi dari Pemda hanya mengalir ke media sosial, sementara wartawan konvesional tidak kebagian,” kurang lebih begitu keluhan mereka. Yang dimaksud media sosial di sini adalah infomjlk atau besoksenin, dan saya yang terlibat di keduanya bisa membantah tuduhan tersebut. Kami tidak diberi apa pun oleh Pak Adhi, atau oleh sesiapa saja di pemda. Lyra, jika kami terlihat membantu program-program mereka—melalui surat ini izinkan saya beritahukan mengapa.

 

Kami juga tidak mau membantu pemda, terlebih jika ada obrolan semacam “Kok kalian mau sih membantu publikasi mereka nggak dibayar? Kalian hanya dimanfaatkan saja!” Kami tidak membantu Pemda, tetapi di dalamnya; ada beberapa (yang kami anggap sebagai) teman kami. Salah satunya adalah Adhi Setya.

 

Adhi Setya sendiri adalah satu orang dinas paling pertama yang saya kenal, setelah kepulangan ke Majalengka. Waktu itu ia menjabat sebagai kepala seksi di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Majalengka (dahulu masih digabung dengan Dispora/Disporabudpar). Saya mengenalnya sejak 2016, sejak saat-saat kami di besoksenin.co belum memiliki teman dari kalangan birokrasi.

 

Saya dan Pak Adhi sering tak sengaja bertemu di acara-acara pemerintah dan komunitas, di lapangan, di objek-objek wisata, di Kopi Apik, di Saung Eurih, serta di mana pun di Majalengka. Bagi Adhi Setya kota ini terlalu sempit. Lama-lama, akhirnya kami saling mengenal, bertukar kontak, kadang-kadang main bareng, dan berkali-kali ditempatkan di dalam project yang sama.

 

Setelah itu, kami suka diundang oleh Pak Adhi; ke restoran miliknya (dulu), ke rumahnya, ke Disparbud, atau bertemu di tempat-tempat nongkrong. Seringnya, kami ngobrol random, namun jika ada sesuatu yang sekiranya baik untuk diketahui oleh orang-orang, maka kami menjadikan statement-statement Pak Adhi sebagai konten. Dia tidak memintanya Lyra, itu inisiatif kami. Bagaimana pun, kami juga butuh konten.

 

Mulai percaya pada Pak Adhi, menganggapnya sebagai teman, dan merasa kehadiran kami telah bisa membantunya, akhirnya kami mulai berani meminta bantuan; menanyakan hal-hal yang akan kami jadikan konten dari sudut pandang pemerintah, menanyakan regulasi yang sekiranya dapat mendukung project kami, atau sekadar hanya berbagi keluh kesah. 

 

Poin terakhir yang paling penting, tanpa berbagi keluh kesah—barangkali sudah lama kami mati.

 

Kami “mengganggu” Pak Adhi, pagi siang malam, beberapa kali bahkan lewat tengah malam. Dia selalu siap sedia. Saya membawa teman a, teman b, teman c, untuk mengenalkannya dengan Pak Adhi. Dia selalu menerima. Di pekarangan rumahnya, disediakan bangku dan meja, di sudutnya tersedia termos elektrik untuk membuat kopi, lima menit kami di sana ia selalu mengeluarkan toples apa pun cemilan yang ia miliki.

 

Bahkan ketika kami sedang tidak bertemu dengannya, dan mengerjakan pekerjaan yang tidak ada hubungan dengan Adhi Setya. Nama dia tetap selalu terdengar, di Bantaragung, di Lemahsugih, di mana pun—kami selalu menemukan jejaknya, dari orang-orang lokal yang membantu kami waktu itu. “Oh, aa kenal Pak Adhi?” “Ya kenal atuh,” kurang lebih begitu, Lyra. Bagi Adhi Setya Majalengka terlalu sempit.

 

Dia kenal dengan hampir semua teman kami, dan berkat hospitality yang ia berikan pada anak-anak muda, ia selalu punya banyak pengikut anak muda, dari berbagai penjuru kota ini. Adhi Setya memberikan peran bukan hanya kepada kami, tetapi ke anak-anak muda Majalengka, dan bahkan kota ini sendiri.

 

Beberapa tahun terakhir, Pak Adhi mulai bermain drone. Ke mana pun ia pergi, ia selalu membawanya. Oleh sebab itu, sekarang ia dipindahkan ke Prokompim. Bagi saya, Adhi Setya sudah mulai memanen benih yang ia tebar di kota ini selama lebih dari satu dekade terakhir.

 

Jika kamu bertanya mengapa kami membantu pemda? Jawabannya adalah karena ada sahabat kami; Adhi Setya. Dan barangkali, jika dihitung, sesuatu yang telah diberikannya kepada kami melebihi uang. Sesungguhnya dia memberikan peran pada setiap perkembangan kami, dari followers kami 5 ribu hingga sekarang. Dan, peran yang dia berikan bukan hanya kepada kami, tetapi ke anak-anak muda Majalengka keseluruhan, dan bahkan kota ini sendiri.

Post a Comment

0 Comments