Berawal Dari Obrolan Ringan, Dua Pemuda Asal Majalengka Tetap Berkarya Ketika Pandemi COVID-19 Belum Usai

 



InfoMJLK.Id — Ketika semua lini usaha terdampak oleh pandemi COVID-19. Dua pemuda asal Majalengka justru berkreasi dengan menghadirkan karya berupa sepatu #samitra yang diawali dari obrolan ringan di sebuah kedai kopi. 


Awal mulanya kolaborasi ini lahir dari sebuah frasa kata “meaningful coincidence” atau bisa dibilang kebetulan yang berarti. Dengan tujuan berdaya lewat berkarya bersama demi terus #melangkahdenganapik. 


“Seperti jodoh misalnya yang dipertemukan akibat sebuah "meaningful coincidence" atau lantaran witing tresno jalaran soko kulino, maka dari itu tercetuslah sebuah obrolan pada Januari lalu antara @kopiapik dengan salah satu pemilik brand lokal yaitu @Prungg untuk menjalin kolaborasi,” tutur Gilang Pramudhita—pemilik dari kedai kopi apik. 


Gilang pun menyebut sebuah kolaborasi ini bermula dari kesamaan pemikiran antara dirinya dan sang pemilik Prungg, Edi Hidayat.


Prungg sendiri merupakan sebuah brand sepatu yang bahan dasarnya menggunakan goni bekas, perjalananannya dalam dunia ekonomi kreatif pun cukup apik, karena telah menjadikan fesyen bukan hanya sekadar komoditas, melainkan juga sebuah identitas.


“Berawal dari spirit yang sama tentang lokalitas. Kami akhirnya menemukan seutas benang merah dan membangun senyawa yang asyik untuk menuangkan sebuah gagasan,” imbuh Gilang. 


Walaupun memakan waktu yang cukup lama sejak awal Januari dalam menggali ide dan juga konsep. Kedua pemuda tersebut akhirnya menemukan subsektor yang paling tepat untuk dikolaborasikan. 


“Setelah proses brainstorming dan pembuatan desain, kemudian akhir-akhir ini kami telah membuat beberapa purwarupa guna melakukan perbaikan juga menentukan proses kendali mutu untuk hasil akhir agar sesuai seperti yang diharapkan,” ungkap Gilang. 


Tak hanya itu, Gilang pun mengajak semua kalangan yang berkecimpung dalam dunia ekonomi kreatif untuk tetap peka dan berkarya walau keadaan sedang tidak baik-baik saja seperti sekarang. 


“Peka terhadap persoalan dan mencari peluang yang bisa bermanfaat bagi bumi dan sesama,” sebutnya. 


Sama halnya dengan Gilang. Edi menjelaskan  bahwa Prungg memiliki medium di pembuatan sepatu, tas dan sandal. Maka Sepatu dan Tas (ToteBag) dipilih sebagai medium pengenal kolaborasi.  


Lalu ia pun membeberkan mengenai konsep yang dicanangkan bersama Gilang, melalui tiga unsur profit/people/planet. 


“Dimana kolaborasi ini kami rancang tidak hanya menguntungkan dari segi profit melainkan juga berusaha untuk peduli pada sesama (manusia) dan alam semesta (Bumi),” ucap Edi. 


Apalagi dalam setiap produk yang dijual juga ada unsur kecintaan Edi dalam menjaga lingkungan sekitar agar tetap asri untuk ditempati.  


“Dari pembelian setiap sepatu itu include 1 totebag dan bibit pohon. Bila nanti keadaan memungkinkan kami ingin pohon itu bisa kita tanam bersama. Penanaman pohon adalah sebagai bentuk care pada alam semesta,” ujarnya. 


Ketika ditanya, apakah ini sebuah gerakan kampanye komunikasi dalam mengenalkan produk lokal? Edi lebih menjawab normatif. 


“Kampanye atau bukan barangkali tergantung dari sudut pandang orang. Kami hanya merasa perlu untuk mengambil bagian atau peran dalam keadaan seperti ini,” cetusnya. 


Ia justru lebih memaknai proses kolaborasi ini sebagai pembelajaran agar tetap berusaha sekuat tenaga walaupun situasi serba sulit. 


“Lebih kepada bagaimana kita tetap berkarya meski dalam nuansa seperti apapun. Bagaimana hasilnya kemudian kita juga tidak tahu, hanya setidaknya kita sedang atau telah memaknai kata usaha atau berjuang sampai detik ini,” tukasnya. 

 

Edi juga meminta masyarakat Majalengka agar bisa beradaptasi dengan keadaan. Lebih banyak membaca situasi juga jangan sungkan untuk berkolaborasi dalam menciptakan seutas karya. 


“Adaptif dan kolaboratif, belajar membaca kebiasaan baru termasuk bekerjasama dengan berbagai unsur elemen, baik yang bersifat bisnis ataupun lainnya,” tutupnya.

Post a Comment

0 Comments